Sebut Hasil Pemungutan Suara Penipuan 5 Cuitan Kontroversial Donald Trump Saat Pemilu Presiden AS

Pemilihan Presiden Negara Amerika Serikat tengah menjadi sorotan dunia. Joe Biden dari partai Demokrat berlawanan dengan Donald Trump dari partai Republik. Donald Trump sudah membuat sejumlah tudingan terkait hasil pemungutan suara.

Padahal, hasil pemungutan suara masih terus dihitung. Dikutip dari Kompas, Joe Bidenhampir memperoleh 270 suaraElectoral College(Dewan Elektoral) pada Rabu (4/11/2020) malam waktu setempat. Sementara Donald Trump memperoleh 214 suara elektoral dalam PilpresAS2020.

Hingga kini, (5/11/2020), kubu Trump dan Biden masih menantikan seluruh surat suara telah dihitung. Namun, tudingan Donald Trump di Twitter menjadi kontroversial. Di akunTwitter nya, Trump membanjiri timeline nyadengan berbagai tuduhan sejak pemungutan suara ditutup pada Selasa (3/11/2020) malam waktu setempat.

Padahal, pada tahap awal penghitungan suara, Trump masih optimistis akan mempertahankan kursi kepresidenan sebagaimana dilansir dari Times Live. Namun semua berubah beberapa saat kemudian. Dia bahkan melangkah lebih jauh dengan menyatakan kemenangan palsu meskipun jutaan surat suara masih belum dihitung.

Dia menambahkan tim hukumnya akan membawa kasusnya ke Mahkamah Agung AS tetapi tidak merinci apa yang akan mereka klaim. “Kami bersiap siap untuk memenangkan pemilu ini. Terus terang, kami memang memenangkan pemilihan ini," kata Trump di akun Twitter nya.

Pernyataan tersebut sangat kontras dengan apa yang dia tulis di akun Twitter nya beberapa saat kemudian. “Ini adalah penipuan besar di negara kita. Kami ingin hukum digunakan dengan cara yang tepat.

Jadi kami akan pergi ke Mahkamah Agung AS. Kami ingin semua pemungutan suara dihentikan,” katanya. Dari harapan hingga putus asa, inilah lima twit Donald Trump di Twitter sebagaimana dilansir dari Times Live : Diketahui, timbul kerusuhan di Portland pada Rabu, 4 November 2020.

Ratusan polisi di negara bagian Oregon pun diarahkan ke wilayah tersebut. Massa melempari kaca jendela toko toko dan memecahkannya. Kerusuhan itu dikabarkan dimulai oleh para anti Trump.

Gubernur Oregon sampai memanggil Garda Nasional untuk meredam kerusuhan. Kantor Sheriff Multnomah mengumumkan adanya kerusuhan tersebut. Hingga menangkap setidaknya sembilan orang.

Ia menyebut kekerasan meluas di pusat kota, dan memperingatkan pihaknya bisa saja mengerahkan pasukan bersenjata dan menembakkan gas air mata. Sementara itu reporter AFP di lokasi melaporkan, polisi bersenjata mendekati para demonstran tapi tidak ada bentrok. Massa sebelumnya berunjuk rasa secara damai di taman pusat kota, dihadiri oleh koalisi kelompok sayap kiri anti kapitalis yang berorasi disertai musik.

"Pertemuan massal di pusat kota Portland masih rusuh. Tinggalkan daerah itu sekarang," tulis kantor sheriff di Twitter sebelum pukul 20.30. Sebelumnya dikatakan bahwa aparat keamanan menjadi sasaran pelemparan benda benda seperti botol kaca. "Demi keselamatan publik, Gubernur Kate Brown melalui nasihat United Command, telah mengaktifkan Garda Nasional Oregon untuk membantu penegakan hukum setempat," lanjutnya.

Portland menjadi tempat bentrokan beberapa bulan terakhir, antara polisi dengan massa yang marah atas pembunuhan orang orang Afro Amerika oleh aparat keamanan. Massa yang berkumpul di tepi sungai Portland bersumpah untuk "mengawal hasil" pilpresAS, dengan membentangkan spanduk bertuliskan "Hitung Setiap Suara" dan "Pemilihan Selesai. Pertarungan Berlanjut". "Kami ingin Trump lengser, itu fokus utamanya," kata seorang pimpinan demo dengan suara lantang.

Di sisi lain, sejumlah demonstran membawa senjata api termasuk senapan, dan spanduk anti rasialisme dan anti imperialisme yang bergambar senapan dan bertuliskan "Kami Tidak Mau Biden. Kami Ingin Balas Dendam".

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *