Fanatisme Tuan Rumah Sebabkan Indonesia Gagal Boyong Piala Thomas 1992

Indonesia dapat dikatakan sebagai negara tersukses dalam keikutsertaannya dalam sejarah perhelatan Piala Thomas. Tercatat sejauh ini, Indonesia telah 13 kali memboyong Piala Thomas ke tanah air. Sebagaimana dalam sebuah pertandingan tentu ada momen kemenangan dan kekalahan yang menyertainya.

Walaupun dapat dikatakan sebagai negara tersukses dalam partisipasinya mengikuti turnamen Piala Thomas. Indonesia dalam fase yang kurang menguntungkan dimana tim Merah Putih sudah puasa gelar sejak tahun 2002. Tim Indonesia tercatat juga sudah lima kali harus duduk di posisi runner up dalam perhelatan Piala Thomas.

Berlangsung di Malaysia, tim Merah Putih yang diperkuat oleh nama nama seperti Rexy Mainaky hingga Eddy Hartono harus tumbang di final. Salah satu mantan pebulu tangkis yang menjadi tim Piala Thomas 1992 adalah Rexy Mainaky. Rexy Mainaky saat itu yang baru bergabung dengan tim nasional dua tahun bermain di sektor ganda putra.

Dirinya pun mengungkapkan momen mengecewakan tatkala tim Indonesia harus tersungkur di partai puncak. Tak segan, Rexy Mainaky menyebut fanatisme luar biasa orang Malaysia terhadap bulu tangkis saat itu membuat negaranya tampil heroik. Hingga pada akhirnya, Malaysia selaku tuan rumah berhasil menyegel gelar juara Piala Thomas 1992.

"Kami tahu Malaysia adalah tim yang kuat, Cina juga kuat, tetapi mereka saja merasa tidak nyaman melawan Malaysia," ujar Rexy Mainaky seperti dikutip dari laman resmi . "Saat itu, orang Malaysia sangat fanatik dengan bulu tangkis, stadion sangat besar terlihat penuh sesak, tidak ada kursi kosong, terutama ketika Malaysia melawan Indonesia di final," kenangnya. Rexy Mainaky yang baru tampil perdana sebenarnya mengakui tidak terlalu tertekan dalam situasi seperti itu.

Lebih lanjut, Rexy Mainaky mengungkapkan analisanya dalam setiap pertandingan yang dijalani tim Indonesia kala itu. Ia menyadari ada beberapa pebulu tangkis tuan rumah yang sangat sulit dikalahkan ketika bermain di Kuala Lumpur. "Kami tahu bahwa di Kuala Lumpur, terutama di sini, tidak ada yang bisa mengalahkan Rashid Sidek," ujar Rexy Mainaky.

"Ardy Wiranata yang tampil sebagai tunggal pertama sebenarnya memiliki peluang yang sangat tipis untuk mendapatkan poin melawannya," tambahnya. "Tetapi Alan Budikusuma selaku tunggal kedua selalu bisa mengalahkan Foo Kok Keong," kenangnya. Rexy Mainaky tak sungkan memuji penampilan tunggal Malaysia, Foo Kok Keong yang mampu bangkit saat itu di momen krusial.

Setelah menelan kekalahan melawan Alan Budikusuma di pertemuan pertama, Foo Kok Keong akhirnya mampu membalaskan dendam. Alhasil, Indonesia pun harus puas menduduki posisi runner up dalam perhelatan Piala Thomas tahun 1992 tersebut. Beruntung, bagi tim Indonesia yang akhirnya bisa membalaskan kekalahan dua tahun berikutnya di partai final Piala Thomas 1994.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *