Dibuat hanya 15 Menit & Ditulis Sekali Jadi Fakta di Balik Puisi Aku Ingin – Sapardi Djoko Damono

Penyair kondang, Sapardi Djoko Damono menceritakan fakta menarik dari dua puisinya berjudul Aku Ingin dan Hujan Bulan Juni. Hal tersebut Sapardi ungkapkan saat menjadi pembicara dalam gelaran Asean Literary Festival 2016 bersama penyair lainnya bernama Joko Pinurbo. Sapardi mengaku dua puisinya tersebut memiliki keunikan tersendiri daripada puisi puisi yang ia buat.

Sapardi dalam kesempatan tersebut juga membeberkan kenapa dua puisi tersebut sangat dikenal oleh masyarakat di Indonesia. "Kemudian 3 sajak saya dimuat di koran Suara Pembaruan atau apa begitu. 3 sajak itu ada Hujan Bulan Juni , itu (Aku Ingin) sama itu." "Seandainya saja puisi itu tidak dijadikan lagu dan tidak dinyanyikan Reda, Anda tidak akan mengenal."

"Bukan karena Anda mengenal puisi saya dulu, tapi mengenal lagu itu dulu," beber Sapardi. Sapardi menambahkan, puisinya yang berjudul Aku Ingin dirinya tulis tidak memerlukan waktu yang lama. Bahkan menurut pengakuannya, pusi tersebut hanya ditulis dalam hitungan menit saja.

"Barangkali membuatnya selama 15 menit atau 20 menit dan waktu itu saya tulis tangan," ucapnya. Berikut Isi Puisi Aku Ingin dan Hujan Bulan Juni Aku ingin mencintaimu dengan sederhana dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada Tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni Dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu Tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan Juni Dihapusnya jejak jejak kakinya yang ragu ragu di jalan itu

Tak ada yang lebih arif dari hujan bulan Juni Dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu Sastrawan Sapardi Djoko Damono meninggal dunia pada Minggu (19/7/2020). Tak hanya itu, penulis Adib Hidayat juga membagikan kabar duka ini melalui akun Twitternya.

Hujan air mata di bulan Juli. Selamat jalan Pak Sapardi Djoko Damono, " tulis Adib Hidayat. Selain Adib Hidayat, penulis Goenawan Mohammad juga mengabarkan kepergian sang pujangga ini. Innalilahi wa inailahi roji’un: Penyair Sapardi Djoko Damono wafat pagi ini setelah beberapa bulan sakit. Maret 1940 Juli 2020 ."

Lebih lanjut, berdasarkan cuitan @ilhamkhoiri, Sapardi Djoko Damono meninggal di RS Eka BSD pagi ini sekitar pukul 09.17 WIB. Selamat jalan, Pak Sapardi. Raga boleh pergi, tapi puisi puisimu akan abadi, terus dibaca dan dilagukan, seperti "Hujan Bulan Juni,", "Aku Ingin Mencintaimu dg Sederhana."

Telah berpulang, penyair Sapardi Djoko Damono di RS Eka BSD, Minggu (19/7/2020) pagi ini, jam 09.17 WIB. " Kabar ini lantas dibenarkan Kepala Biro Humas dan Kantor Informasi Publik Universitas Indonesia (UI), Amelita Lusia. "Ya, Mas," kata Amel saat dikonfirmasi, Minggu, dilansir .

Sapardi Djoko Damono merupakan penyair kelahiran Surakarta, 20 Maret 1940. Puluhan karya telah dibuat Sapardi Djoko Damono hingga akhir hayatnya. Seperti Duka Mu Abadi (1969), Perahu Kertas (1983), Kolam (2009), Namaku Sita (2012), dan Hujan Bulan Juni (2015).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *