Ayu Selisa, Kerangka yang Ditemukan di Septic Tank Pernah Babak Belur Dipukuli Suaminya

Suami Ayu Selisa, Edi Susanto diduga kuat menjadi aktor di balik kematian Seli, sapaan akrab Ayu Selisa. Saudara kembar Ayu Selisa, Ayu Lelisa atau yang kerap disapa Leli angkat bicara mengenai sosok Edi. Ia mengaku, ayah Edi, Waluyo dahulu pernah berbincang dengannya tentang kondisi suami saudara kembarnya.

"Terus orangtuanya Edi itu bilang kalau Edi itu punya kelainan," ujarnya. Tak hanya itu, Leli mengaku pernah menyaksikan Edi melakukan kekerasan terhadap Seli. Ia melihat Seli terluka karena tindakan Edi.

"Dulu jujur sering berantem emangan. Di depan saya itu. Sampai babak belur begitulah. Iya, berkali kali," katanya. Semenjak Seli menghilang secara misterius tahun 2009, Leli berulang kali datang ke rumah Edi untuk mencari saudaranya. Edi beralasan, Seli sudah pulang ke rumah orangtuanya di Badran.

Edi pun terkesan sangat menghindar saat mendapatkan pertanyaan mengenai keberadaan Seli. Hal senada juga diungkapkan oleh ibunda Seli, Anik Maidarningsih. Sambil menangis, Seli kerap bercerita padanya mengenai perlakuan Edi.

"Pernah kasar, pernah cerita dislomoti (sundut) rokok. Sering nangis pengen pisah. Saya sebagai orang tua cuma bisa ngandani (memberitahu supaya sabar),” ujarnya. Sementara Kasat Reskrim Polres Bantul AKP Riko Sanjaya mengatakan Edi memang sering melakukan KDRT terhadap Seli. Sebelum kerangka Seli ditemukan di septic tank, Edi gantung diri pada 11 November 2019 lalu.

Ia meninggalkan surat wasiat yang berisi akan menyusul eyangnya dan Seli yang sudah meninggal dunia. Polisi terus mendalami dugaan Edi beraksi seorang diri atau ada pelaku lain dalam kasus ini. "Masih pendalaman kita, di tahun 2009 siapa temannya, pergaulannya siapa ataupun setelah itu dia intens bergaul dengan siapa kita cari tahu dari saksi saksi," ucapnya.

Waluyo, ayah Edi Susanto, mengatakan jika pihak keluarganya dan pihak keluarga Ayu Selisa (Seli) sudah berdamai terkait penemuan kerangka Seli di septic tank di Kasihan, Bantul, Yogyakarta. Edi sendiri adalah suami Seli, yang menghilang sejak 2009. Menurut kabar yang diterima Kompas.com, kedua pihak keluarga sudah bertemu untuk membicarakan kasus Seli.

"Sampun rampung, sampun damai. Kulo boten saget maringi penjelasan. Tangled teng kepolisian mawon (Sudah selesai, Sudah damai, saya tidak bisa memberikan keterangan silakan tanyakan pihak polisi saja," kata Waluyo saat ditemui wartawan di rumahnya, Jumat (27/12/2019). Waluyo mengaku jika dia sudah mendatangi keluarga Seli saat pemakaman kerangka menantunya tersebut pada Rabu, 25 Desember lalu. Ia juga hadir di acara peringatan 7 hari penguburan Seli. Waluyo juga mengaku sudah memberikan keterangan ke pihak kepolisian baik di kantor polisi maupun di rumahnya paska penemuan kerangka.

Beberapa kali dia menjawab pertanyaan agar menanyakan ke pihak kepolisian terkait masalah itu. Menurut dia, Edi merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara. Dua kakak Edi pisah rumah dan sudah berkeluarga. Diakui Waluyo, dirinya sebagai pedagang dan petani, jarang di rumah. Setiap hari berjualan mengurus sawah, dan sapi.

Sehingga praktis bertemu dengan Edi dan Seli pada malam hari. Selama hidup tak ada yang aneh dari Edi, dan dibesarkan dengan didikan keluarga dengan baik. Sampai akhirnya, Edi ditemukan meninggal sebagai pelaku bunuh diri 11 November 2019 lalu.

Waluyo mengatakan, septic tank di belakang rumahnya sudah lama tidak digunakan. Dari pengamatan, garis polisi masih terpasang di area septic tank. Kondisi rumah yang berada di pojokan dan masih rimbunnya pepohonan.

Sementara dihubungi terpisah Ibu Ayu Shelisa, Anik Maidarningsih (51) mengakui ada pertemuan antara keluarganya dengan Waluyo. Namun yang banyak berbicara adalah suaminya, sehingga tidak mengetahui detail isi pembicaraan tersebut. Namun demikian, pihaknya ingin kasus tersebut diungkap sehingga tabir kematian anaknya bisa terbuka.

"Kalau saya, tetap saya serahkan ke pihak polisi saja," ucapnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *